July 15, 2005

Petualangan

Jalan2 ke luar Yogya banyak memberiku inspirasi. Setidaknya ada 3 perjalanan yang sangat berkesan.
1. Banten
2. Situbondo
3. NTB

Banten
Tempat kakak ipar, tepatnya di kesatrian Gatot Subroto. Lingkungan militer yang kukenal selama ini ternyata berbeda jauh. Disini Grup 1 Kopassus, kesatuan yang konon jaman Probowo menjadi kesatuan tercepat dalam operasi dan koordinasi, nggak tanggung2 peringkatnya 3 (internasional). Pernah denger operasi pembebasan sandera di pesawat (klo nggak salah Kamboja th 90 akhir), tu kan salah satu prestasi Kopassus yang membanggakan.
Lingkungannya sangat disiplin dan nggak ada waktu luang buat anggota Kopassus, misalnya untuk libur minggu. Krn utk libur harus mendapat persetujuan atasan. Plus jam kerjanya panjang mulai jam 5 pagi sampe jam 9 malam, tu pun klo nggak ada piket yang bisa sampe jam 5 pagi lagi.
Satu lagi yang ku dapet di Banten, ternyata ada kakak sepupu yang tinggal di sini. Trus berbekal alamat yang dikasih kakakku aku naik angkot ke tempat sepupu.
………….
Akhir cerita kita akrab setiap ada acara keluarga, padahal sebelumnya mungkin ga saling kenal.

Situbondo
Rencananya aku ma Agus main ke Bali, tapi sebelumnya kita mampir t4 temen yang di Situbondo, Zubair. Aku dah bawa kaki katak dan masker selam, krn dah rencana mo main ke Pasir Putih, plus t4 om ku di Bali deket pantai. Ceritanya mo nyelam…….
Di singkat aja yah ceritanya……..
Setelah 2 hr di Situbondo kita lanjut ke bali, berangkat habis subuh, krn harus nganter 2 orang pake motor, Zubair harus bolak balik 2 kali. Trus kita naik bus jurusan Banyuwangi. Krn masih pagi bus kosong, dan Agus minta duduk di belakang (paling belakang) kita duduk di belakang juga, padahal sebenarnya aku lebih suka didepan.
Perjalanan keliatannya bakal lancar, tidur 2 jam pasti bangun bakal sampe Gilimanuk, Banyuwangi, pikirku. Begitu keluar jalan, sekitar 3 menit keluar dari terminal, ada pertigaan, lampu lalulintas merah, tapi dasar sopir nekad, bus terus dipacu belok kanan. Agus teriak, tapi hanya sedetik kemudian bus bergoncang keras disertai bunyi dasyat. Kapalaku langsung puyeng, mata nggak bisa ngeliat jelas beberapa saat. Ternyata aku sempat terbanting ke kanan sebentar, kepala terbentur besi pegangan kursi. Tapi karena sangat cepat kejadiannya sampe nggak sadar. Taunya kaca jendela bertebaran, besi samping bus ringsek dan bengkok ke dalam.
Agus bantu aku berdiri, trus ambil tas ku. Dari luar ada orang yang mencoba ndobrak pintu, nampaknya macet. Setelah sekian lama mendobrak akhirnya ada orang yang teriak trus masuk nyambut badanku, ternyata Zubair. Aku tanya, “ngapain masih disini, kok nggak pulang”. Kejadian waktu itu sangat membingungkan, yang ku inget Zubair bilang klo mukaku penuh darah. Aku pegang sebentar, emang basah tapi karena masih gelap jadinya nggak jelas. Begitu ada cahaya dikit, alangkah kagetnya aku, ternyata telapak tanganku dah penuh darah. Trus kuping dan kepala terasa perih dan pening. Aku sempet tanya keadaan Agus, tapi nampaknya dia nggak apa2.
Langsung aja Zubair ajak ke rumah sakit pake motornya, ternyata dia waktu pulang tidak lantas menuju rumah tapi buntuti dari belakang Bus. Sampe RS lukaku dibersihin, disuntik, trus dibalut. Setelah itu rasa pusing mulai berkurang.
…………………………………
Kita nginep di t4 Zubair sekitar 2/3 hari, padahal nggak direncanakan sebelumnya. Ada kisah menarik, karena aku batal ke Bali, setelah kecelakaan aku telp Om di Bali. Intinya aku nggak jadi main karena terjadi sedikit kecelakaan tapi nggak apa2. Nah, padahal Om ku sudah aku ingetin utk tdk telp rumah. Ternyata telp bener, dan info nya dibesar2 kan. Ortu geger, denger berita itu, langsung telp ke Situbondo. Semua RS dan kantor polisi di hubungi…………………………..

(bersambung)